Translate

andie.wicaksono.net. Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 24 Februari 2017

Kisah selembar surat dari Negeri Kincir Angin

| | 0 komentar
Selembar kertas itu kutunjukkan pada Papah, kertas berisi LoA, Letter of Acceptance. Didalamnya disebutkan bahwa aku diterima untuk meneruskan sekolah disebuah kampus prestisius di Negeri kincir angin, negara yang bahkan melihatnya langsung pun aku belum pernah, lengkap dengan rincian biayanya. "Berapa ini kalo dirupiahkan, 10.500 Euro per tahun?" tanya Papah. "Seratus lima puluh juta Pah", jawabku. "Setahun?", "Iya", jawabku. Selama lima menit kami terdiam ditempat duduk masing-masing, lalu berpandangan.

"Berapa lama waktu kuliahnya?" tanyanya lagi. "Doktoral itu sekitar empat tahun, itupun jika lancar", jawabku. Wajahnya menerawang keatas, seperti posisi menghitung. "Enam ratus juta. Itu tunai semua? Yang harus dibayarkan?", tanyanya lagi. "Iya", jawabku. Dia lalu terdiam, menghela napas panjang.

"Kamu tahu kan, kita bukan orang kaya? Duit segitu banyak, dapet darimana?", belum sempat aku menjawab, sudah muncul pertanyaan-pertanyaan lainnya: "Emangnya kamu punya, duit segitu? Kok kamu nekat, melamar disitu? Keluargamu nanti gimana?", aku tiba-tiba diberondong dengan sekian banyak kalimat. Kami berasal dari keluarga sederhana, bukan dari kalangan berada. Bahkan melihat uang sebanyak enam ratus juta dalam bentuk tunai pun belum pernah.

"Disana itu Universitas prestisius, Pah, bahkan orang-orang di Eropa sanapun berebut untuk masuk kesana", jawabku. "Papah tau Mohammad Hatta kan? Bapak Proklamator. Nah, Beliau dulu sekolahnya disana".

"Nanti disana makannya gimana? Kan biaya hidupnya mahal, harga makanannya, transportnya, belum tiket pesawatnya, Papah nggak punya uang segitu", begitu tambahnya. Akupun terdiam, saat itu, aku merasa seperti orang bodoh. Orang ndeso yang nekat, tanpa perhitungan. Kok ya nekat banget, mengirimkan email ke professor disana, menyatakan ketertarikanku untuk melakukan riset. Selamat! Aku barusaja membuat rekor kebodohan terbesar tahun ini.

Kubolak-balik kertas LoA itu dengan tatapan kosong, berharap ada keajaiban yang datang, siapa tau tiba-tiba dari belakang kertas itu keluar duit yang banyak. Kualihkan pandanganku ke layar televisi didepan, berharap ada acara kuis berhadiah satu Milyar yang bisa kuikuti, ngayal! Ya nggak bakalan ada lah. Bagaimana ini caranya sekolah diluar negeri? Uangpun tak cukup. Gaji pas-pasan sebagai tenaga pengajar di sebuah kampus swasta pastinya tak akan cukup untuk membayar uang kuliah disana, bahkan untuk makan pun mungkin tak cukup.

Anganku mengelana, membayangkan kehidupan di Eropa dengan bangunan-bangunan yang indah, kota empat musim dengan sistem transportasi yang sudah maju. Ah, mengkhayal terus, batinku. Aku tidak berani me-reply email dari pak Professor tadi. Malu aku untuk menulis, nggak punya biaya. Surat itu akhirnya kusimpan dalam laci meja kerja, tergeletak disana selama enam bulan lamanya. Bahkan emailnyapun sampai aku lupa ada difolder yang mana.

Kini, aku masih mengenang peristiwa dua tahun yang lalu itu saat menulis dissertasi. Aku memandangi trem-trem yang lewat dari jendela sambil menyeruput secangkir kopi Douwe Egberts dari rumah lantai empat sebuah gedung apartemen di Rotterdam, kota di Negari kincir angin dengan kelengkapan fasilitasnya. Ini adalah sebuah kisah nyata, tentang anak bangsa yang tak berhenti bermimpi untuk mengabdi pada bangsa, mengentaskan kemiskinan.



Teruskan cita-cita bangsa, jangan berhenti bermimpi, jangan berhenti berharap. Raih kesempatan gemilang untuk menjadi generasi Emas Indonesia. Terima kasih untuk Lpdp atas kesempatan yang diberikan kepada seluruh anak bangsa untuk meraih cita-citanya, membangun negeri lewat pendidikan. Terima kasih untuk  Papah dan Mamah, yang sudah memberikan kesempatan untuk terus bermimpi.

Rotterdam, 24 Februari 2017
Andie Wicaksono
Phd Researcher IHS Erasmus University Rotterdam
Awardee PK 20 LPDP

0 komentar:

Recent Posts

Footer

 
Twitter Facebook Dribbble Tumblr Last FM Flickr Behance