Translate

andie.wicaksono.net. Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 06 Agustus 2014

Prambanan, an Alternate Reality

| | 0 komentar
"Jonggrang, mengapa kau tega mengelabuiku, menyuruh pegawai-pegawaimu menumbuk ani-ani? Kamu sengaja membakar merang, mengakhiri pertandingan, kenapa??", tanyaku. "Aku mengagumimu, Bandung. Sayangnya kamu pembunuh!", jawabnya ketus. "Jonggrang, jangan salah sangka, justru dia adalah orang yang menarik pajak semena-mena dari rakyat, orang yang haus kekuasaan, menghalalkan segala cara untuk meraih keinginannya. Lihat itu, rakyatmu kelaparan, penderitaan dimana-mana. Siapa yang bertanggung jawab? Ayahmu!", jawabku. Jonggrang adalah anak dari Begawan Baka, orang yang paling bertanggungjawab atas hilangnya ratusan prajurit di Pengging saat dia menyerang kerajaan Ayahku, beberapa bulan yang lalu.

"Ya, dan orang akan mengira akulah pembunuh Begawan Baka. Malam itu, kami berdua bertarung di belantara alas Curug Kembar, Prambanan. Saat itu hanya ada kami berdua disana, diantara rimbunan semak belukar. Kudanya menginjak bara bekas rumput yang terbakar panah api, dan berlari kesetanan tanpa kendali. Dia tiba-tiba terpeleset dan terjatuh dari kuda. Kepalanya membentur sebuah batu besar. Batu itulah yang membunuhnya, bukan aku", jawabku lirih. Jonggrang duduk, terdiam. Raut mukanya berubah. "Bila itu benar, maafkan aku" jawabnya. "Tapi, akan ditaruh dimana muka kami? Rakyat akan menganggap kami penghianat bila aku menikahimu", katanya lagi.

"Lihat, sembilan ratus sembilan puluh sembilan candi sudah selesai, tinggal satu yang belum, dan ayam-ayam sudah berkokok, bagaimana aku bisa meneruskan pekerjaan ini?". "Lupakan", jawabnya. Tiba-tiba, terbersit suatu ide gila dibenakku. "Tunggu disini! Akan kubuktikan". Aku berlari keluar ruangan.

"Ambilkan aku batu besar dari alas Curug, ditempat aku membunuh Baka", aku berkata pada jin yang ada disitu, salah satu yang terbesar dari sekumpulan yang membantuku membangun cungkup. Dia pun segera menghilang ditelan kegelapan malam. "Kalian yang lain, teruskan pekerjaan. Bangun yang terbesar ditengah latar ini. Ketinggiannya harus lebih dari seratus depa, dibuat dari batu-batu yang ada di kali Opak, bentuk alasnya harus menyerupai cakra Shiwa, dengan panggung tertinggi ada ditengahnya, sekarang!".


Kupicingkan pandanganku, menyapu sekeliling area. Situs ini seharusnya hampir sempurna, 999 cungkup sudah berdiri tegak, menyatu sebagai satu kesatuan vista dengan gemericik air kolam yang mengelilingi dasarnya. Deretan palem dan pohon Maja terbaik dari wana Sari  sudah kutata sebagai lanskap disekitar area, diterangi deretan cahaya dari api obor-obor yang membentuk pengarah pandangan, sudah cukup bagus untuk deadline pekerjaan satu malam. Para undagi, tukang, dan jin-jin yang membantu pun bergegas mengerumuni area dibagian tengah tersebut, mulai meletakkan pondasi. "Tapi, ayam sudah berkokok, kita sudah kalah, Tuanku", kata salah satu undagi. "Sudah, lakukan saja".

Batu besar setinggi gajah tiba-tiba muncul dihadapanku. Kuambil pahat dan palu, mengikis, berhenti dan mengamati, mengikis lagi. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu merasuki ragaku, membayangkan sosok Jonggrang, raut wajahnya, senyumnya, matanya, lekuk-lekuk tubuhnya. Jonggrang, jangankan patung, seribu candipun akan kubuatkan untukmu. Aku merasakan kedua tanganku membelah diri mereka sendiri-sendiri, dua menjadi empat, empat menjadi delapan. Kedelapan tangan itu bekerja sendiri-sendiri sesuai tugasnya masing-masing, menggambar, memahat, mengukur, memutar, dan membersihkan. Batu besar itu berubah menjadi sosok yang ada dibenak kepalaku, patung Jonggrang, persis seperti aslinya. Batu itu kuletakkan ditengah-tengah panggung didalam cungkup terbesar yang baru saja jadi. "Sempurna", kutarik napas lega.

Aku menarik Jonggrang keluar halaman, dan berhenti tepat ditengah-tengah cungkup Shiwa tadi. "Lihat! Inilah pembunuh sebenarnya. Sudah kuabadikan menjadi patung. Akan kutinggalkan namaku disini, Bandung Bondowoso, undagi, arsitek pembangun mahakarya seribu cungkup ini. Bagaimana menurutmu?". "Kelak, masyarakat disini akan mengira batu ini adalah jelmaan Roro Jonggrang, seorang putri yang dikutuk menjadi batu karena takut kalah dari seorang undagi", jawabnya tersenyum. "Kalian pergilah ke barat, ke tepi alas Kantil. Aku akan meyusul", kataku.

Saat kuda-kuda mereka menghilang dari pandangan, aku pun beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Menyusuri tepian kali Opak, aku berhenti sejenak, menoleh kebelakang mengagumi sosok cungkup-cungkup buatanku dari kejauhan. Jonggrang, seribu bangunan pun yang telah ku desain, ku bangun, tidak akan ada satupun yang mampu menandingi cintaku padamu. Kisah inilah yang akan menjadi mahakarya sejati sesungguhnya, bukti ketulusan dan pengabdian seorang arsitek kepada kliennya, di Prambanan.

Yogyakarta, 7/8/14,
AW
Kisah ini terinspirasi dari wikipedia Roro Jonggrang

Note:
"Saya mencoba membuat realita alternatif untuk legenda ini dengan menghidupkan kembali Jonggrang. Logika nalarnya adalah tidak akan ada manusia yang bisa membuat seribu candi dalam waktu semalam, dan tidak ada orang yang bisa mengkutuk orang lain menjadi batu atau patung. Pada legenda aslinya, dikisahkan Roro Jonggrang berakhir menjadi batu (patung) karena mencurangi Bandung Bondowoso dalam kontes membuat seribu candi. 

Beberapa penafsiran lain menyebutkan bahwa Jonggrang adalah nama lain dari Pramodhawardhani, istri Bandung Bondowoso atau Rakai Pikatan, raja ke-6 kerajaan Mataram Kuno. Pramodhawardhani adalah putri dinasti Sanjaya yang beragama Budha, yang menikah dengan raja Rakai Pikatan dari dinasti Syailendra yang beragama Hindu. Mereka menikah setelah kerajaan Sanjaya ditaklukkan oleh kerajaan Syailendra. Jonggrang berarti: wanita yang cantik dan langsing". 

0 komentar:

Recent Posts

Footer

 
Twitter Facebook Dribbble Tumblr Last FM Flickr Behance