Translate

andie.wicaksono.net. Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 31 Juli 2014

Pohon Kelapa dan Nelayannya

| | 0 komentar
Mataku tertumbuk pada jari-jari tangan kanannya, jari-jari itu kotor, berwarna campuran antara abu-abu tua, merah dan hitam, bukan hanya satu, tapi kelimanya. Anak perempuan itu hanya diam memunggungiku, sekilas sepertinya asyik dengan sesuatu yang dilakukannya. Aku mendekat, ingin tahu apa yang dia kerjakan. Mungkin dia tidak menyadari ada yang mengamatinya dari belakang. Kelima jarinya seolah sangat aktif, menggosok-gosokkan torehan segaris krayon yang sudah digambar diatas kertas itu berulang-ulang dengan semua jarinya, urut dari jari telunjuk, jari tengah, jari manis, kelingking, dan terakhir ibu jari, perlahan-lahan, satu per satu.

Aku terkagum-kagum dengan hasilnya, sebuah sosok pohon kelapa dengan latar belakang merah kuning hadir di kertas itu. 'Pohon Kelapa saat Senja', mungkin inilah judul gambarnya. Antara daun, batang, pelepah dan seratnya, semua tergambar dengan jelas. Detilnya sempurna. Antara iri dan kagum aku dibuatnya. Kagum dengan teknik yang dia gunakan karena diluar kebiasaan anak-anak kelas tiga sekolah dasar saat menggunakan krayon, 'anti mainstream', istilah sekarang. Biasanya kami menggunakan krayon dengan cara menorehkannya ke bagian kertas berulang-ulang. Dia tidak menggunakan cara itu, tapi memulasnya dengan jari. Setelah selesai, dia bergegas menuju ke meja guru, menumpuk gambar pohon kelapa tadi bersama tumpukan kertas-kertas lainnya yang sudah ada disana. Tanpa menoleh kebelakang sedikitpun, tidak menyadari bahwa aku mengamatinya dari tadi.

Aku iri karena mungkin ini adalah satu-satunya gambar yang bisa menyaingi hasil gambarku, nelayan sedang menangkap ikan dengan jala, latar belakangnya warna biru langit dan air laut. Lenyap sudah kepongahanku. Sebenarnya, sebelum melihat gambarnya aku sudah berkeliling ke setiap sudut ruangan kelas, ada yang sedang menggambar gunung kembar dengan bentuk yang tidak proporsional, besar sebelah sehingga malah terlihat seperti gunung dengan bisul, ada pula yang sedang menggambar berbagai jenis ikan yang sebenarnya menurutku lebih mirip segerombolan 'pac-man'. Sungguh tidak menarik.

Itu adalah saat terakhir aku bisa mengamatinya dari jarak dekat, tanpa sepatah kata, karena beberapa bulan kemudian beberapa teman sekelas mengatakan bahwa dia sudah pindah saat kenaikan kelas karena mengikuti kepindahan tugas orang tuanya, tanpa tahu dimana alamatnya yang baru. 20 tahun lebih aku tidak mendengar kabar darinya. "Jadi alasanmu masuk arsitek karena itu, karena gambar pohon kelapamu bagus?", godaku sambil memeluk istriku. "Aku sudah memilih nelayanku sendiri", jawabnya sambil tersenyum.

- moral cerita-
"Kita seringkali tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikan kita, meski seolah kita merasa bahwa kitalah yang memperhatikannya".

0 komentar:

Recent Posts

Footer

 
Twitter Facebook Dribbble Tumblr Last FM Flickr Behance