Translate

andie.wicaksono.net. Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 25 Juli 2014

Disini Kupanggil Namamu-Sebuah Romansa di Weimar

| | 0 komentar
"Disini aku sering memanggil namamu", katamu sambil menunjuk sebuah bangku kosong yang tergeletak diatas hamparan rumput hijau. "Sini, duduk sini. Dulu, biasanya setelah pulang sekolah aku sering mampir dulu kesini, duduk, melamun, menghirup bau tanah basah sambil melihat gemericik air sungai", jelasmu. Aku sering berdo'a di bangku ini, mengucapkan keinginan-keinginanku yang tak tersampaikan," bisikmu. "Kenapa suka disini?" tanyaku. "Iya, soalnya disini sepi banget, tenang. Disini suasanya lebih khusyuk. Enak buat berdo'a. Mudah-mudahan si Willow ini juga ikut meng-amini", jawabmu riang.

"Oiya, perkenalkan, ini adalah pohon Willow, dan dia adalah temanku", cengirmu sambil menunjuk sebuah pohon Willow tua yang ada disebelah bangku. Pohon tua dengan daun-daun kecil yang terjulur hampir menyentuh tanah itu seolah terbingkai menjadi satu kesatuan pemandangan dengan bangku, rumput, sungai dan bebek-bebek yang sedang bermain diatasnya. "Hai Willow!", kupegang beberapa helai daunnya yang menjuntai.

"Kamu mau berdo'a lagi disini?" tanyaku. "Iya!", jawabmu. Aku menggeser duduk kesamping, memberikan ruang cukup longgar  kepadanya supaya lebih leluasa. "Silahkan", matanya pun tertutup sambil bergumam mengucapkan sesuatu. "Do'anya jangan lupa buat kita juga ya", bisikku. Sejenak, pandanganku menyapu sekeliling area.

Subhanallah, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Arrahman). Pepohonan hijau dengan rumput liar yang ada di seberang sungai, gemericik aliran air yang 'super' bening seolah menyatu menjadi sebuah pemandangan ber'seri' dengan apa yang ada disebelah kiriku, jembatan tua terbuat dari susunan batu yang menghubungkan taman ini dengan kompleks bangunan tua Bauhaus University.

Ini seolah di alam mimpi. Bahkan angin dingin 6'C yang menusuk muka pun tak mampu membangunkanku dari kenyataan bahwa aku sedang berada disini. Kota tempat sekolahnya dulu, Weimar. Sebuah kota 'mini' di Eropa, bekas tempat calon ibukota negara bentukan Hitler. Kota seluas kecamatan 'Banyumanik' ini memang ukurannya sangat kecil, kemana-mana cukup jalan kaki atau bersepeda. Penduduknya sedikit, tinggal di deretan rumah-rumah berdinding tebal dengan atap genteng model kuno. Mereka sering berkeliling kota dengan mantel berbulu tebal dan berjalan dengan sepatu yang agak kebesaran, mirip Smurf, karakter kartun dari Belgia.

Ini adalah kota tempat tinggal penyair terkenal Goethe dan Schiller. Pada saat pemerintahan Anna Amalia dan anaknya Carl August, Weimar berperan penting sebagai pusat kebudayaan Eropa, tempat banyak seniman sastra seperti Goethe, Schiller, dan Herder. Demikian halnya dengan pemusik dan pianis seperti Hummel, Liszt, dan Bach. Richard Strauss juga tercatat pernah bekerja di Weimar sebagai konduktor Orchestra Staatskapelle. Beberapa karya yang di hasilkan antara lain Hansel and Gretel, Don Juan dan Macbeth. Kota ini terkenal sebagai kiblat seni Jerman.

"Udah yuk, dingin. Aku pengen cari yang anget-anget", katamu sambil memakai topi ungu yang tadi dilepas. Tanganmu pun menggandeng tanganku, menyadarkan lamunanku tentang kota ini. Hanya terlihat satu dua orang berseliweran di sepanjang jalan dari taman menuju alun-alun, orang-orang disini sepertinya lebih memilih menghangatkan diri didalam rumah daripada harus keluar.

"Disini kita dapat menjumpai aneka kuliner pada cafĂ© dan restoran yang ada di sekitar alun-alun Theaterplatz, seperti Thueringer Bratwurst (sosis besar), aneka kue dan cake seperti Zupfkuchen, semuanya dengan harga murah (sekitar 1 Euro). Di sekitar alun-alun terdapat “Pizzeria da Antonio”, restoran Italy dengan 90 pilihan menu pizza dan salad". 

"Eh, kita makan doner yuk!" kamu mempercepat langkah menuju salahsatu pintu bangunan mungil yang ada di sudut jalan. 'Divan doner-a la Turque', tempat ini berada tidak jauh dari Theaterplatz. Tulisannya apa nih? Die Nummer 1 in Weimar, mereka memproklamirkan diri sebagai “The Number One in Weimar”. Mereka memang tidak berbohong dengan slogan itu, karena tempat tersebut adalah satu-satunya restoran yang menjual doner, satu-satunya di kota Weimar. Tempat ini terkenal dengan roti donernya yang enak dengan potongan daging kambing besar-besar, rasanya lebih gurih dibandingkan doner yang ada di kota-kota lain yang pernah kami kunjungi. Bapak-bapak tua gemuk yang ramah menyambut kedatangan kami dengan mimik bertanya, "mau makan apa?".

-Bersambung-

Lebih jauh tentang perjalanan ini, bisa dibaca di buku:
Jelajah Arsitektur Dunia 



0 komentar:

Recent Posts

Footer

 
Twitter Facebook Dribbble Tumblr Last FM Flickr Behance