Translate

andie.wicaksono.net. Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 06 Agustus 2014

From: rahwana.dasamuka@swargamuksa.com
To: sinta.dewi@alengka.com
Subject: Surat untuk Sinta

Dear Sinta,

Apa kabarmu disana? semoga engkau baik-baik saja dan bahagia membaca surel ini. Setiap hari aku memikirkanmu disini, di swarga muksa ini, berharap engkau segera menyusulku kesini.

Aku jadi teringat kejadian di Majalengka beberapa waktu yang lalu.
Saat itu, publik terlalu terpengaruh dengan lini media yang memenangkannya, mereka berkata bahwa aku adalah manusia kejam dan bengis, manusia bermuka sepuluh. Kau tahu kenyataannya, bahwa itu semua sebenarnya karena aku mempelajari taktik perang dari 'TsunZu', yang berkata bahwa kita harus bisa menyesuaikan diri dan luwes (resilient) terhadap berbagai situasi. Bila berhadapan dengan anak kecil maka kita harus bersikap dewasa dan mengayomi, bila berhadapan dengan musuh, tunjukkan belas kasihmu, bukan malah menusuk dari belakang. Lihat kelakuan si Rama, justru dia yang sering memakai banyak topeng. Rama telah berkomplot dengan musuhnya, dengan Sugriwa, adikku. Pura-pura menjanjikan bantuan dengan membangun jembatan Ramasetu, alasannya untuk kesejahteraan rakyat, menjanjikan supaya dari Ayodhya dan Majelengka bisa terhubung, padahal itu sebenarnya hanya alasan untuk mempermudah dia menyerang kerajaanku.

Bila berhadapan dengan wanita, maka tunjukkan bahwa kamu itu laki-laki, gentle. Emangnya si Rama itu gentle? Mana berani dia bergerak sendirian. Mau menjemputmu di Majalengka saja harus menunggu tiga tahun, nunggu ada yang bantuin, nunggu pasukan monyet dulu baru jalan. Ksatria apaan tuh? Kalau memang dia beneran sayang sama kamu, harusnya dia tidak perlu menunggu sampai tiga tahun, basi! Kalau dia memang ksatria, ngapain ngajak-ngajak orang sekampung untuk urusan pribadinya? Itu Jatayu burung paruh bengkok jelek ngapain terbang diatas langit Majalengka setiap hari, mengintip isi istanaku? Bawa-bawa monyet lagi. Urus sendiri dong, yang gentle.

Salah satu medianya berkata bahwa aku sengaja memancingmu dengan kijang emas, tapi lihat apakah si Rama itu pernah memberikanmu hadiah? Enggak kan, jangankan kijang, mobil murah jenis Terios, Agya dan Ayla aja dia nggak sanggup beli. Mau ke Majalengka aja jalan kaki lewat got, capek deh! Sinta, jangankan kijang, kamu minta kuda Ostrali, Lamborghini atau private-jet pun, hari ini juga aku beliin.

Mereka berkata bahwa aku kejam, kasar. Aku memang tidak segan-segan menghabisi orang-orang yang jahat, para koruptor, provokator, orang-orang yang yang menyakiti hati rakyat, tapi aku tidak pernah membunuh wanita, Sinta.
Lihatlah kenyataannya, justru Rama lah yang membunuh Supanaka, adikku. Dia hanya seorang wanita. Mana ada ksatria yang beraninya cuma sama wanita. Kalau bukan karena dia yang duluan menyakiti Supanaka, mungkin aku tidak akan menculikmu waktu itu.

Mereka bilang aku ini diktator, ambisius, mana buktinya? Kemarin tiga tahun kamu di Majalengka, nggak pernah tuh sedetik pun aku menyentuhmu. Setiap hari aku bersabar, tiga tahun aku menunggumu dengan cara yang konstitusional. Coba kamu tanyakan Hanoman, si Rama tiga tahun ngapain aja dia disana, saat kamu di Majalengka? Tanya Anjani, ibunya Hanoman, ngapain aja dia sama si Rama? Ngaku-ngaku titisan Arjuna. Sama ibunya monyet aja doyan, apalagi ibu-ibu muda yang lain. Sudah benar sebenarnya apa yang dilakukan prabu Dasarata, orang seperti itu cocoknya dibuang, tinggal dihutan saja, berteman dengan monyet.

Sinta,
Bila kehidupan kemarin masih mungkin diulang, aku akan meminta kepada 'Yang Kuasa' supaya itu diulang, karena kehidupan yang kemarin penuh kecurangan. Ini, aku masih menyimpan foto kita berdua saat di Majalengka, salah satu pose yang paling bagus menurutku. Foto ini akan menjadi momen terbaik untukku, sebuah bukti kenangan cinta kita berdua. Mudah-mudahan kamu juga senang menerimanya.
Jaga diri baik-baik disana, salamku dari swarga muksa.



Yours,
R.
send from my ipad. sinyal kuat by muksa-sat.



Yogyakarta, 7/8/14,
AW
Kisah ini terinspirasi dari wikipedia Rama

Note:
"Saya mencoba membuat realita alternatif untuk legenda Rama-Sinta ini dari sisi Rahwana, raja Alengka. Beberapa penafsiran lain justru menyebutkan bahwa Rahwana lah sebenarnya tokoh protagonis disitu, bukan Rama. Hal ini dipercaya oleh masyarakat di Sri Lanka. Kisah ini tidak ada hubungannya dengan kejadian apapun di Indonesia, atau negara-negara lainnya". 

Recent Posts

Footer

 
Twitter Facebook Dribbble Tumblr Last FM Flickr Behance